Jumat, 28 Januari 2011

Hasil Penelitian: Cinta dapat Mengalahkan Rasa Sakit



Penelitian: Cinta
Hasil Penelitian: Cinta dapat Mengalahkan Rasa Sakit



Begitu dahsyatnya efek dari rasa cinta. Seperti kata pepatah, cinta dapat membuat orang pintar jadi bodoh, membuat orang bodoh jadi pintar. Membuat orang kuat jadi lemah dan membuat orang lemah jadi kuat. Bahkan dapat membuat orang sehat menjadi sakit dan orang yang sakit menjadi sehat. Sebuah studi membuktikan hal ini, bahwa dengan memikirkan seseorang yang kita cintai kemungkinan dapat membantu mengurangi rasa sakit pada fisik yang diderita.

Demikian diungkap sebuah penelitian di Amerika Serikat yang mengungkap pentingnya hubungan sosial dan memiliki keterkaitan emosional. Studi yang dilakukan di University of California, Los Angeles melibatkan 25 orang wanita muda yang memiliki hubungan dengan pasangannya lebih dari enam bulan. Rasa panas menyakitkan ditempelkan di lengan bawah para wanita tersebut bersamaan dengan mereka melihat foto pasangan mereka, orang asing yang tak dikenal dan sebuah kursi.

“Ketika para wanita itu melihat foto pasangannya, mereka benar-benar mengatakan rasa sakit yang dirasakan lebih sedikit dibandingkan ketika melihat foto objek atau orang asing,” ujar salah seorang peneliti sekaligus asisten professor psikologi UCLA, Naomi Eisenberger. “Tak lebih dari itu, foto sederhana dari pasangan mampu mengurangi rasa sakit,” tuturnya.

Dalam penelitian lain, para wanita dilaporkan merasakan sakit yang berkurang ketika mereka memegang tangan pasangannya, dibandingkan ketika mereka memegang tangan orang asing atau mencengkram bola. Hasil penelitian itu kemudian dipublikasikan pada bulan November di Psychological Science. “Penelitian itu menunjukkan seberapa penting kehidupan sosial terhadap pengalaman kita dan pekerjaan lainnya serta peran dukungan sosial terhadap kesehatan fisik dan mental,” terangnya.

Cinta yang dimaksud di sini bukanlah sekedar romansa cinta yang menggetarkan. Cinta yang dimaksudkan adalah cinta yang lebih tenang, cinta dalam bentuk stabil yang bisa menguntungkan bagi kesehatan. “Ada bukti yang menunjukkan kalau orang-orang yang berpartisipasi dalam hubungan jangka panjang yang memuaskan jauh lebih baik diukur dari berbagai aspek kesehatan,” kata Harry Reis, PhD, editor pembantu the Encyclopedia of Human Relationships.

Sebagian besar penelitian lebih menekankan pada cinta dalam perkawinan, tetapi Reis meyakini, bentuk hubungan dekat yang lain seperti partner, orangtua, atau teman juga berdampak sama. “Kuncinya adalah merasa terhubung dengan orang lain, merasa dihormati dan dihargai oleh orang lain, dan adanya perasaan memiliki,” kata dia. Berikut adalah 10 bukti berdasarkan penelitian yang mengaitkan cinta dengan kesehatan:

1. Lebih Jarang berobat ke dokter
Studi menunjukkan kalau orang-orang yang menikah lebih jarang berobat ke dokter dan jangka waktu perawatannya di rumah sakit juga lebih singkat.”Tidak seorang pun yang tahu pasti mengapa hubungan yang saling mencinta bagus untuk kesehatan,” kata Reis.”Logika terbaiknya adalah manusia sudah ditempa oleh proses evolusi agar hidup saling terkait dalam kelompok sosial. Saat itu tidak terjadi, sistem biologis akan terganggu.”

Teori yang lain, orang-orang yang terikat dalam hubungan yang bagus lebih memelihara kesehatannya. Pasangan Anda akan membuat Anda perduli untuk tetap menjaga kesehatan. Teman terbaik bisa memotivasi Anda untuk mengkonsumsi lebih banyak makanan-makanan sehat. Seiring waktu, kebiasaan baik ini akan mengurangi jumlah penyakit.

2. Lebih jarang mengalami depresi
Berdasarkan laporan Health and Human Services, menikah dan bersama dalam satu ikatan perkawinan mengurangi depresi baik laki-laki maupun perempuan. Penemuan ini tidak mengejutkan, lanjut Reis, karena isolasi sosial dikaitkan dengan tingkat depresi yang lebih tinggi. Hal yang menarik, pernikahan juga mengurangi jumlah konsumsi alkohol dan penggunaan obat-obatan, khususnya di antara manusia dewasa.

3. Perkawinan yang bahagia bagus untuk tekanan darah
Para peneliti menemukan, orang-orang yang menikah dan bahagia memiliki tekanan darah yang terbaik, selanjutnya diikuti oleh laki-laki- atau perempuan lajang. Partisipan dengan perkawinan yang tidak bahagia memiliki tekanan darah paling jelek. Hal ini, menurut Reis, menunjukkan aspek vital dimana perkawinan mempengaruhi kesehatan. “Kualitas perkawinan yang membuat perbedaan bukan fakta mengenai perkawinan itu,” kata dia. Hal ini mendukung ide bahwa hubungan positif lainnya di luar perkawinan juga mempunyai pengaruh yang sama. Pada kenyataannya, lajang yang mempunyai hubungan sosial yang kuat juga mempunyai tekanan darah yang baik, walaupun tidak sebagus orang yang menikah dan berbahagia.

4. Lebih tidak cemas
Berbicara mengenai kecemasan, hubungan yang saling cinta dan stabil jauh lebih kuat dibandingkan romansa cinta yang masih baru. Para peneliti dari State University of New York di Stony Brook menggunakan scan MRI untuk melihat otak orang yang sedang jatuh cinta. Mereka membandingkan pasangan baru yang membara dengan pasangan yang telah terhubung erat dalam hubungan jangka panjang.

Kedua kelompok menunjukkan adanya aktivasi di bagian otak yang dikaitkan dengan cinta yang kuat. “Itu merupakan daerah dopamine, area yang juga merespon kokain atau perasaan saat memenangkan banyak uang,” kata Arthur Aron, PhD, salah satu penulis studi. Tetapi ada perbedaan yang jelas antara kedua kelompok di bagian otak lainnnya. Dalam hubungan jangka panjang, “Ada juga aktivasi di area yang berkaitan dengan ikatan dan kurang aktif di area yang memproduksi kecemasan.”

5. Pengontrol rasa sakit yang alami
Studi MRI menunjukkan hasil positif lainnya pada pasangan yang terikat dalam hubungan jangka panjang, yaitu lebih aktif di bagian otak yang berfungsi mengontrol rasa sakit. Sebuah laporan studi mendukung penemuan ini. Dalam studi yang melibatkan lebih dari 127.000 orang dewasa, mereka yang menikah lebih jarang mengeluhkan sakit kepala dan sakit punggung. Studi kecil yang dipublikasikan di Psychological Science juga mendukung penemuan ini. Para peneliti menghubungkan 16 perempuan menikah dengan alat shock elektrik. Ketika mereka memegang tangan suami mereka, mereka menunjukkan respon yang lebih sedikit di area otak yang berkaitan dengan stres. Semakin bahagian perkawinan, semakin besar efeknya.

6. Managemen stres yang lebih baik
Jika cinta membantu mengatasi rasa sakit, bagaimana dengan stres? Aron menyatakan adanya bukti yang menunjukkan hubungan antara dukungan sosial dan manajemen stres.”Jika Anda menghadapi penyebab stres dan mendapat dukungan dari seseorang yang mencintai Anda, Anda akan mengatasinya dengan lebih baik,” kata dia. Jika Anda kehilangan pekerjaan, misalnya, Anda akan merasa terbantu baik secara emosional maupun keuangan jika Anda punya pasangan di samping Anda yang selalu mendukung.

7. Lebih jarang mengalami flu
Anda sudah melihat kalau hubungan yang saling mencinta dapat mengurangi stres, kecemasan dan depresi, fakta yang menunjukkan adanya peningkatan sistem kekebalan tubuh. Peneliti di Carnegie Mellon University menemukan, orang-orang yang menunjukkan emosi positif lebih jarang sakit setelah terekspose virus demam atau flu.

8. Penyembuhan yang lebih cepat
Kekuatan dari hubungan yang positif membuat luka akan lebih cepat sembuh. Para peneliti dari Ohio State University Medical Center dengan sengaja melukai pasangan yang telah menikah. Lukanya dua kali lebih cepat sembuh pada pasangan yang berinteraksi hangat dibandingkan dengan pasangan yang lebih sering bermusuhan.

9. Hidup lebih lama
Banyak studi menunjukkan, orang yang menikah hidup lebih lama. Salah satu studi terbesar meneliti dampak perkawinan pada tingkat kematian selama 8 tahun di tahun 1990-an. Dengan menggunakan data dari National Health Interview Survey, para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang tidak pernah menikah memiliki kemungkinan 58% lebih cepat meninggal daripada orang-orang yang menikah.

10. Hidup lebih bahagia
Salah satu keuntungan terbesar dari cinta adalah kebahagiaan. Tetapi penelitian baru, masih mulai menunjukkan seberapa kuat hubungan ini. Sebuah studi di Journal of Family Psychology menunjukkan, kebahagiaan lebih tergantung pada kualitas hubungan keluarga daripada tingkat pendapatan. Jadi, kita mepunyai bukti ilmiah bahwa, paling tidak dalam beberapa hal, kekuatan cinta mengalahkan kekuatan uang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar